Rabu, 19 Maret 2014

Kobarkan Semangat Indonesia

Demokrasi telah dijunjung Indonesia sejak dibangunnya negara ini.  Sila ke empat dan kelima dalam Pancasila telah menyakinkan hal tersebut. Didukung pula banyaknya  undang-undang yang mengatur akan demokrasi di Indonesia. Sayangnya demokrasi di Indonesia yang ideal hanya baru mulai setelah runtuhnya orde baru. Pemilu pada masa orde baru sangatlah terkontrol oleh pemerintah, ketika jumlah partai harus dibatasi dan lebih memperhatinkannya lagi adalah para pegawai negeri sipil wajib memilih Partai Golkar. Aneh bukan? Kemudian pada tahun 1999 baru dimulailah awal demokrasi dengan diadakannya Pemilu yang berasas Luberjurdil  yang diikuti  48 partai. Kemudian 09 April mendatang akan  menjadi  akan menjadi Pemilu  yang semoga saja melahirkan wakil rakyat  yang amanah. Selang 2 bulan pemilihan presiden akan diadakan.
Sebelum memilih siapa yang pantas menjadi  pemimpin negeri kepulauan ini, seyogyanya kita juga perlu menentukan dengan cerdas partai yang kita pilih. Selain kontribusi yang dilakukan partai kita juga harus memilah-milih partai yang berasaskan akan tauhid. Dalam perkembangannya saat ini Partai Keadilan Sejahteralah yang mempunya kontribusi banyak terhadap negeri ini selain itu partai ini juga  selalu mengedepankan tauhid dalam kegiatan dan pembinaan kader-kadernya. Saya percaya akan hal ini ketika bencana lahar dingin melanda Sungai Pabelan di daerah Magelang, ketika itu saya ingin meninjau dampaknya di seputaran Dusun Menayu. Saya mulai warga yang mulai mengungsi dan ketika itu pula saya melihat Pandu Keadilan, sebuah Kepanduan dari Partai Keadilan Sejahtera , telah terjun ke lapangan dan mulai membantu warga. Sungguh partai yang benar-benar bertindak nyata. Selain itu PKS juga sering mengadakan halaqoh untuk memperdalam agama bagi para anggotanya. Kemudian ketika akhir-akhir  ini PKS dicemooh dengan partai korupsi sapi, itu hanyalah hal yang digemborkan-gembor tanpa mereka tahu yang sebenarnya tentang kasus tersebut, dan perlu diketahui  bahwa PKS masih menjadi partai dengan koruptor yang paling sedikit dan index partai korupsi yang paling rendah(http://politik.kompasiana.com/2014/01/22/menilai-tingkat-korupsi-partai-partai-peserta-pemilu-2014-626365.html).
Ketika melihat siapa yang pantas menjadi Presiden , saya masih menunggu hasil dari Pemilu 2014 dan menunggu keputusan dari PKS akan  mengajukan calon sendiri atau berkoalisi seperti tahun 2009. Menurut pandangan pribadi saya, yang layak adalah Bapak Hidayat Nur Wahid, selain dikenal di dunia politik beliau juga seorang ustad yang bersahaja.
9 April 2014, mari kita rayakan hari tersebut dengan memilih dengan hati nurani untuk Indonesia yang lebih baik. Say no to politic money dan kobarkan semangat Indonesia!

Selasa, 04 Maret 2014

Dont feel "yes"!

Ojo rumongso biso, kata dalam bahasa Jawa yang pernah aku temukan di atas pintu masuk salah seorang temanku. Kemudian aku mencoba kepo akan dua kata tersebut, jangan merasa bisa adalah definisinya. Sebuah kata yang singkat namun makna yang dikandungnya sangatlah dalam dan menjadi salah satu nasihat yang manjur. Merasa bisa yang kemudian dalam pendidikan akan menjadi kata merasa pintar. Sifat inilah yang sebenarnya membuat kita menjadi sombong dan enggan belajar serta merasa dirinya tidak perlu mendengarkan orang lain. Sungguh, hal tersebut akan mencelakan diri kita.
Belum sampai disitu saja, karena temanku menambahkan bahwa dadiyo uwong sing biso rumongso. Jadilah orang yang bisa tahu diri adalah maknanya. Selayaknya juga kita harus demikian, mengenali diri kita, melihat dalam siapa diri kita dan putuskan untuk melakukan hal yang membuat kita menjadi insane yang lebih baik.
Teringat pula akan satu kalimat yang pernah kudengarkan dari seorang trainer handal, Pak Zaenal Fanani, orang yang tidak akan pernah maju adalah orang yang merasa maju. Tidak ada ragu lagi, kita harus menempatkan diri kita menjadi orang yang awam, yang masih belum punya wawasan luas. Sehingga hal tersebut akan memacu kita untuk terus belajar dan menimbulkan rasa ingin tau yang luar biasa.
Dadi uwong ojo rumongso biso, nanging uwong sing biso rumongso.
Aji’x dan Freddynokeep