Selasa, 17 Desember 2013

MAKALAH PANCASILA PERSATUAN INDONESIA



MAKALAH PANCASILA
PERSATUAN INDONESIA


Oleh:
Afif Fadlullah
13/349139/PA/15505
Elektronika Instrumentasi

UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan bangsa yang mempunyai diferensi paling tinggi di Indonesia. Indonesia dengan jumlah pulau  17.504, jumlah suku bangsa 1.340, jumlah bahasa  546. Sungguh tak satupun Negara di dunia yang begitu ragamnya. Kemudian menilik soal keyakinan, Indonesia juga mempunyai 6 agama resmi dan aliran-aliran agama yang entah ada berapa, jumlah ini termasuk jumlah yang banyak dibanding Negara lain yang biasanya hanya mempunyai kurang dari lima agama. Sungguh luar biasa apabila melihat ke-bhinneka-an tersebut, tetapi hal tersebut juga menjadi kendali ketika akan mewujudkan persatuan. Persatuan yang bernotabene tunggal ini masih menjadi momok bagi warga Indonesia. Masih ada berita yang berisi bentrokan antar suku ataupun penghinaan agama yang satu dengan yang lain. Kemudian kita akan mengaitkannya dengan salah satu sila dasar Negara kita yaitu Persatuan Indonesia.
2.      Rumusan Masalah
1.      Apa makna Sila Persatuan Indonesia?
2.      Apa  peran Persatuan Indonesia dalam Perjuangan Indonesia kedepan?

3. Tinjauan Pustaka
      Dalam ‘Persatuan Indonesia’ terkandung kesadaran akan adanya perbedaaan-perbedaan sebagai keadaan yang biasa di dalam masyarakat dan bangsa, untuk menghidup-hidupkan perbedaan  yang mempunyai daya penarik ke arah kerjasama dan kesatuan, dalam suatu resultan, dalam suatu sintesa, dan untuk mengadakan peniadaan serta pengurangan perbedaan yang mungkin mengakibatkan suasana dan kekuatan tolak-menolak kea rah perselisihan, pertikaian dan perpecahan atas dasar kesadaran akan kebijaksanaan dan nilai-nilai hidup yang sewajarnya, lagi pula dengan kesediaan, kecakapan dan usaha untuk sedapat-dapatnya melaksanakan pertalian kesatuan kebangsaan, menurut pedoman-pedoman majemuk tunggal bagi pengertian kebangsaan.(Prof. Dr. Mr. Drs. Notonagoro:1987)


4. Landasan Teori
-Negara adalah kesatuan rakyat dalam suatu Negara Indonesia
-Negara kesatuan meliputi segenap bangsa Indonesia, Negara mengatasi segala paham perorangan maupun golongan.
-Negara Republik Indonesia yang merupakan Negara kepulauan, mencakup bermacam-macam suku bangsa dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
-Bangsa Indonesia wajib menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, perbedaan harus diserasikan untuk mencapai cita-cita bersama menuju kesejahteraan bersama.
-Setiap warga Negara atau setiap golongan harus menyadari bahwa setiap pelanggaran terhadap ‘persatuan Indonesia’ akan mengakibatkan  pelanggaran terhadap norma lain.
-Pelanggaran terhadap norma masyarakat juga mengakibatkan rusaknya pencapaian persatuan Indonesia.




BAB II
PEMBAHASAN
 ya udah pokoke ayo bersatu!!!!!!


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan

Kenyataan yang ada dalam masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat kita sungguh heterogen, kemudian “Persatuan Indonesia” merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

2.      Saran
Pengembangan Persatuan Indonesia memang tak selangkah. Maka diperlukan langkah edukasi sejak dini dan berkelanjutan akan pengenalan Pancasila dan Persatuan Indonesia. Selain itu, pemerintah juga memberikan contoh pada masyarakat akan pengamalan dari ’Persatuan Indonesia’ itu sendiri, seperti yang kita ketahui bahwa satu teladan lebih baik daripada seribu nasehat.
3.      Daftar Pustaka

Notonagoro .(1995).Pancasila Secara Ilmiah Populer.Jakarta:Bumi Aksara.
Bakry, Noor MS.(1994).Pancasila Yuridis Kenegaraan.Yogyakarta:Liberty.

Kamis, 14 November 2013

Syarat dan Pengetahuan Ilmiah
PANCASILA

Pembahasan Pancasila secara ilmiah harus memenuhi persyaratan ilmiah, yaitu:
(1) memenuhi empat syarat sifat ilmiah
  • Harus berobjek
  • Harus bermetode
  • Harus Sistematik
  • Bersifat universal
(2) mencakup 4  pengetahuan ilmiah
  • Pengetahuan deskriptif
  • Pengetahuan normatif
  • Pengetahuan esensi
  • Pengetahuan kausal


sumber Pancasila; Yuridis Kenegaraan, Noor Ms Bakry, Liberty Yogyakarta

Kamis, 24 Oktober 2013

Al Wasaya Al Asyrah ( Sepuluh Larangan Tuhan)


1. Dilarang mempersekutukan Allah.
2. Dilarang tidak  berbuat baik kepada kedua orang Ibu Bapak.
3. Dilarang membunuh anak karena takut
     kemiskinan.
4. Dilarang berbuat kejahatan , baik secara terang2an maupun  tersembunyi.
5. Dilarang membunuh jiwa yang diharamkan
     oleh Allah membunuhnya.
6. Dilarang mengganggu harta anak yatim 
7. Dilarang  tidak menyempurnakan takaran dan timbangan 
8. Dilarang  mengikuti jalan yang lain, selain jalan yang ditunjukkan Allah.  
9. Dilarang  berkata tidak adil (tidak jujur) dalam segala hal terutama dalam persaksian walaupun terhadap keluarga 
10. Dilarang tidak memenuhi janji baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia ( asal bukan janji kejahatan)  

Jumat, 18 Oktober 2013

The Impact of Syntetic Fertilizer is Acid Rain?

Mari semangat berkontribusi untuk Indonesia, fellas!

Kita sering berpikir melihat sebuah hentangan sawah hijau itu adalah sebuah kebaikan, sebuah "go green" yang dikembangkan petani atau sebuah kesejukan. Tidak salah apabila berpikir demikian, karena melihat sawah hijau lebih menyejukkan daripada melihat gedung-gedung pencakar langit yang arogan itu. 
Tetapi, satu hal yang perlu kita ketahui ternyata apabila sawah tadi menggunakan pupuk sintesis, maka hal tersebut merupakan salah satu penyebab hujan asam.

pupuk terdiri dari zat dan bahan kimia seperti metana, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen.
penyebab pemanasan global dan perubahan cuaca..ammonia yang berasal dari pupuk dan tanah yang mengudara , kemudian bereaksi dg zat yang berada di udara dan kemudian terjadilah hujan asam..

Kamis, 10 Oktober 2013

Sebuah Perlakuan
Kebaikanku tak sepenuhnya mendapatkan hasil yang baik. Ketika aku mendekati seorang wanita misalnya, ak sudah berkaca dulu sebelum memilih tentunya. Tapi, entah mengapa, selalu saja perlakuan baikku tidak membuahkan hasil. Ataukah aku tidak ikhlas? Berharap tidak, buat melakukan hal tanpa dilandasi sebuah kerelaan dan keikhlasan.

Dalam kehidupan mahasiswa ini, di awal semester, dimana tahap percobaan, adaptasi dan implementasi kehidupan baru bergejolak. Dalam sebuah kuliah misalnya, kami selalu saja merasa ngantuk dan tidak semangat dalam menjalani khutbah sang dosen, ketika itu pula dosen menawarkan pemberian animasi, dan kita pun terketuk dan beranjak semangat menonton. Jujur, betapa kekanakan kami ini. Sudah tahu pun, tetap saja kami lakukan. Sungguh kita belum berkarakter.

Kami selalu menunggu mengerjakan sesuatu ketika waktu tersebut udah sempit. Tentu saja hasil dicapai beda dengan yang dikerjakan dalam waktu luang dan penuh persiapan. Kami mahasiswa universitas favorit masih melakukan hal yang demikian. 

Selamatkan Indonesia! Hidup Mahasiswa Indonesia! katanya. Tapi, jangan katakan demikian selagi kalian masih membiarkan jiwa kecil masih berhinggap.


Selasa, 08 Oktober 2013

Peralihan Rangkaian

Kapan saja sebuah rangkaian diubah dari suatu keadaan (kondisi) ke keadaan lainnya. Entah karena perubahan sumber terpasang atau perubahan dalam elemen-elemen rangkaian, terdapat suatu periode peralihan (transisi) selama mana arus-arus cabang tegangan elemen-elemen berubah dari nilai semula menjadi nilai yang baru. Periode ini disebut peralihan (transien). Setelah peralihan berlaku, Keadaan rangkaian punya dua kbagian penyelesaian, yakni fungsi komplementer (complementary function) dan solusi khusus (particular solution), Fungsi komplementer berhubungan dengan peralihan dan solusi khusus berhubungan dengan tunak.

in KBRI Malaysia

Senin, 07 Oktober 2013

The Iceman *sumber lupa

On a September day in 1991, two Germans were climbing the mountains beetwen Austria and Italy. High up on a mountain pass, they found the bodyof a man lying on the ice. At that height (10,499 feet or 3,200 meters), the ice usually permanent, out 1991 had been an especially warm year. The mountain ice had melted more than usual and so he body come to the surface.
It was lying face downward. The skeleton was in perfect condition, except for a wound in the head. There was still skin on the bone and the remains of some clothes. The hands was were still holding the wooden handle of an ax and on the feet there were very simple leather  and cloth boots. Nearby was a pair of gloves made of tree bark and a holder of arrow.
Who was this man? How and when had he died?